Home » , , » Jalan Magelang-Yogya Makin Memprihatinkan

Jalan Magelang-Yogya Makin Memprihatinkan

Kerusakan badan jalan raya Magelang-Yogyakarta di Dusun Gempol, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, semakin memprihatinkan setelah diterjang banjir lahar dingin berturut-turut, Sabtu dan Minggu lalu.
Petugas Pelaksana Kebijakan Bina Marga Jawa Tengah wilayah Magelang Budi Sudirman, di Magelang, Senin (24/1), mengatakan, badan jalan yang semula tergerus selebar 7 meter berbentuk kerucut, sekarang melebar sepanjang 30 meter dengan kedalaman 5 meter.
Pascabanjir lahar, bekas badan jalan yang tergerus itu selalu diperbaiki dengan memasang batu-batu besar sebagai fondasi, kemudian ditimbun. Namun, saat diterjang banjir, hasil perbaikan itu sia-sia lagi. "Agar badan jalan yang tergerus tidak makin melebar jika terjadi banjir lahar susulan, maka akan dipasang pancang besi. Saat ini, kami masih melakukan evaluasi dan melakukan pengukuran berapa besi yang diperlukan," kata Budi.
Berdasarkan pantauan, arus lalu lintas di jalur Magelang-Yogya, kemarin, padat merayap karena badan jalan menyempit, dari empat lajur menjadi dua lajur, untuk dua arah. Untuk melindungi pengguna jalan yang melintas, di pinggir jalan yang tergerus dipasang tumpukan pasir.
Banjir lahar dingin Merapi di Sungai Putih Dusun Gempol, Jumoyo, telah sembilan kali meluap ke jalan raya sehingga menutup akses utama Magelang-Yogyakarta. Banjir lahar yang menutup jalan raya tersebut terakhir terjadi Minggu (23/1), lebih besar dibanding banjir sehari sebelumnya (22/1).
Sementara itu, 52 bendung irigasi di sejumlah sungai yang berhulu di Gunung Merapi di Kabupaten Magelang rusak akibat diterjang banjir lahar dingin. Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Pemerintah Kabupaten Magelang Wijayanti mengatakan, sejak banjir lahar dingin pascaerupsi Merapi 2010, sejumlah bendung irigasi yang mengairi sekitar 5.590 hektare sawah tersebut mengalami rusak ringan hingga hancur.
Wijayanti mengatakan, masih berlangsungnya banjir lahar pada musim hujan membuat kerusakan jaringan irigasi dan sawah yang terancam kekeringan diprediksi bertambah luas.
Pada musim hujan ini, lahan sawah yang memanfaatkan air dari sejumlah bendungan tersebut belum merasakan dampaknya karena sekarang masih ada air hujan. Namun, setelah musim hujan berlalu nanti, dan bendungan belum diperbaiki, kekeringan niscaya terjadi. Informasi lain menyebutkan, sekitar 71 hektare sawah di Kecamatan Cangkringan dan Ngemplak, Kabupaten Sleman, rusak akibat terlanda banjir lahar dingin Gunung Merapi melalui aliran Sungai Opak dan Sungai Gendol.
"Selain puluhan hektare sawah, banjir lahar dingin juga merusak sekitar 4 hektare areal perikanan di dua wilayah kecamatan itu," kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Sleman Slamet Riyadi Martoyo.
Di tempat lain, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang Hendarto mengatakan, pengungsi akibat banjir lahar dingin Gunung Merapi mulai terkena serangan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Karena itu, petugas medis secara intensif melakukan penanganan.
Pemda setempat telah membuka 13 posko kesehatan di berbagai tempat pengungsian korban banjir lahar dingin tersebut. Hendarto menjelaskan, tenaga medis secara bergilir bertugas di berbagai posko kesehatan itu untuk melayani pengungsi. Persediaan berbagai obat-obatan saat ini relatif mencukupi.
Jumlah pengungsi korban banjir lahar dingin hingga saat ini tercatat 5.006 jiwa, terbanyak (1.117 jiwa) di Tempat Penampungan Akhir (TPA) Tanjung, Kecamatan Muntilan. Para pengungsi banjir lahar dingin Merapi itu berasal dari 16 dusun di empat desa, terutama di aliran Kali Putih, yakni Desa Sirahan, Selo Goro, Jumoyo, dan Adikarto (Kecamatan Salam dan Muntilan).
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yogyakarta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger