Home » , , » Jalur Magelang-Yogya Tersisa 5 Meter

Jalur Magelang-Yogya Tersisa 5 Meter

Jalur Magelang-Yogyakarta tersisa lima meter dari total 14 meter.Jalan tersebut berpotensi tertutup total lahar dingin Gunung Merapi mengingat masih tersisa material sekitar 100 juta meter kubik.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Pemerintah Provinsi DIY Tjipto Haribowo mengatakan, jalur Yogyakarta- Magelang merupakan jalur yang vital dengan kepadatan lalu lintas yang cukup tinggi, seperti halnya jalur Yogyakarta-Solo. Kondisi jalur saat ini hanya tinggal 5 meter dari 14 meter yang masih dilalui kendaraan. “Jalur Yogyakarta- Magelang ini berpotensi tertutup total,”ungkapnya di Solo kemarin. Menurutnya,cukup sulit untuk mencegah jalur itu tidak tertutup oleh tumpukan lahar dingin Gunung Merapi. Sebab, meski selalu dilakukan pembersihan, terjangan terus saja terjadi.

“Yang satu belum selesai dibersihkan,lainnya sudah kembali terkena.Tidak ada kesempatan untuk memperbaiki,” sebutnya. Tjipto mengatakan, idealnya jalur tersebut memiliki flyover.Terjangan lahar dingin ini berpotensi membuat jalur tersebut tertutup dalam rentang waktu yang cukup lama.Karenanya, flyover bisa menjadi alternatif solusi di masa mendatang. Dia berharap, pemerintah pusat segera menganggarkan biaya pembangunannya.“Lokasinya yang di kawasan tersebut,”ungkapnya. Untuk saat ini, langkah antisipatif yang ditempuh terkait ancaman tertutupnya jalur karena lahar dingin yakni dengan mempersiapkan segala kebutuhan bagi pengalihan jalur angkutan umum.

“Sudah dikoordinasikan di Sleman mengenai pengalihan rute,”sebutnya. Pengalian bisa sekadar insidental namun tak menutup kemungkinan untuk jangka waktu panjang. Sejauh ini telah lebih dari lima kali terjadi pengalihan insidental. “Kalau benar-benar tertutup (sehingga pengalihan lama), banyak hal yang perlu dipersiapkan lagi,seperti izin trayek,”sebutnya. Tijpto mengaku, pihaknya telah mempersiapkan rambu-rambu dan penerangan jalan untuk jalurjalur yang bakal menjadi rute pengalihan.Untuk jalur Yogya-Magelang, bisa melalui Tempel-Kedung Apu-Jembatan Kebon agung dan tembus Borobudur.“Tapi kalau antarprovinsi, dialihkan ke Bawen dan melewati Solo,”paparnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Hubungan Darat Kementerian Perhubungan Surojo Alimoesadi mengungkapkan, rute bus antarkota antarprovinsi (AKAP) yang melintasi jalur tersebut terpaksa diubah jika kondisi jalan tak memungkinkan untuk dilalui. Jika selama ini bus melintasi Magelang, maka nantinya dari Bawen melewati Solo sebelum menuju Yogyakarta. Surojo meminta agar tiap pemerintah daerah terkait segera mengantisipasi masalah ini agar aktivitas masyarakat tidak terganggu. “Kami minta dinas perhubungan masing-masing daerah terkait untuk memerhatikan masalah ini. Segera diantisipasi segala sesuatunya,” tegasnya di Solo, kemarin.

Masih 100 Juta Meter Kubik

Sementara itu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta mengungkapkan, material hasil erupsi di puncak Merapi telah luruh sebanyak 50 juta meter kubik. Material tersebut hanyut dibawa banjir lahar dingin ke hilir sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Kepala BPPTK Yogyakarta Subandrio mengatakan, banjir lahar dingin yang terjadi beberapa kali dalam tiga bulan terakhir telah mengurangi debit material di puncak secara cukup signifikan.

Sebagian besar material luruh melalui aliran sungai di sebelah barat Merapi, meliputi Kali Putih, Senowo,Apu, Tringsing,dan Pabelan.Kemudian, sebagian lagi melalui sebelah selatan, yaitu Kali Gendol dan Kali Boyong. “Dari sejumlah sungai tersebut, bantaran Kali Putih merupakan yang paling sering diterjang lahar dingin. Kali ini diperkirakan sudah ada sekitar 15 juta meter kubik material yang berada di badan dan hilir sungai. Sebab, pada dua kejadian banjir yang terakhir kita mencatat sudah ada 12 juta meter kubik,” katanya kemarin. Di Kali Pabelan jumlah material diperkirakan juga sudah ada hampir sama dengan Kali Putih.

Sungai ini merupakan muara dari tiga sungai, yakni Kali Apu,Tringsing, dan Senowo, yang di bagian hulunya sudah terdapat tumpukan material. Jumlah material di Kali Pabelan yang hampir sama dengan Kali Putih ini adalah hasil perkiraan secara kasar. Dia menuturkan, dari hasil pengamatan diperkirakan masih tersisa material sekitar 100 juta meter kubik yang tersebar hampir merata di sebelah barat dan selatan Merapi.Khusus di sebelah selatan, material terlihat lebih banyak di sekitar Kali Gendol.Material yang masih berada di puncak ini masih akan mengancam dalam bentuk lahar dingin.“Dengan jumlah 100 juta meter kubik, maka diperkirakan material itu baru akan luruh semua setidaknya selama waktu tiga musim penghujan.

Saat ini BMKG menginformasikan bahwa curah hujan di kawasan Merapi 20 milimeter/jam, sehingga baru mampu meluruhkan material 10% saja,”bebernya. Dia mengatakan, banjir lahar dalam skala besar bisa terjadi jika curah hujan mencapai 40 milimeter/ jam. Di mana hal itu diprediksikan akan terjadi sekitar Februari mendatang. Karena itu, kewaspadaan terhadap bahaya banjir lahar diminta tetap terus ditingkatkan.

Pengungsi 5.006 Jiwa

Pengungsi banjir lahar dingin jumlahnya terus bertambah menyusul datangnya kembali banjir lahar Minggu (23/1) lalu di Kabupaten Magelang. Saat ini jumlah pengungsi sudah mencapai 5.006 orang dari sebelumnya 4.111 orang. Kepala Subbidang Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang Heri Prawoto mengatakan, ribuan pengungsi itu tersebar di 14 titik pengungsian.Banjir terakhir mengakibatkan sejumlah desa teterjang lahar, di antaranya Desa Seloboro, Kecamatan Salam.“Jumlah pengungsi saat ini sudah mencapai 5.006 jiwa yang tersebar di 14 titik.

Ini karena banjir yang terjadi pada Minggu (23/1) cukup besar,” katanya kemarin. Menurutnya, hingga saat ini sudah ada 442 rumah yang rusak karena banjir lahar.Terdiri dari 102 rumah hanyut atau hilang, rusak berat 149 unit,rusak sedang 98 unit, dan rusak ringan 69 unit. Sedangkan rumah yang terancam banjir sebanyak 22 unit.Selain rumah,ada sembilan jembatan dan dua ruas jalan yang rusak.Kejadian banjir yang cukup besar itu membuat warga dari 16 dusun di empat desa, yakni Sirahan, Seloboro, Jumoyo, dan Adikarto mengungsi.

Kaur Pembangunan Desa Jumoyo Ismadi mengatakan, terdapat 791 warganya atau 222 kepala keluarga (KK) dari empat dusunnya mengungsi, yakni Gempol, Kalirogo,Kemburan, dan Dowakan. (m abduh/fefy dwi haryanto)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yogyakarta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger