Pemerintah telah mengganti sebanyak 4.007 ekor sapi korban bencana erupsi Gunung Merapi di empat kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

"Realisasi alokasi dana yang dikucurkan pemerintah untuk penggantian ternak sapi korban erupsi Merapi sebanyak itu mencapai Rp35,9 miliar," kata Koordinator Tim Identifikasi Penanganan Ternak Korban Merapi Ida Tjahajati di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, alokasi dana tersebut telah didistribusikan ke empat kabupaten, yakni Kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta) dan Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Magelang (Jawa Tengah).

"Dana itu membengkak Rp10 miliar dari jumlah yang telah disiapkan sebelumnya sekitar Rp25,5 miliar untuk 3.000 ekor sapi. Di lapangan ditemukan banyak sapi yang mati, sehingga jumlahnya meningkat menjadi 4.007 ekor sapi," katanya.

Ia mengatakan sapi yang mati tidak diganti dengan uang, tetapi dengan sapi hidup yang telah dibeli dengan dana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Dana tersebut diambil dari dana BNPB yang sebelumnya dialokasikan untuk pembelian sapi hidup sebesar Rp100 miliar," kata Direktur Rumah Sakit Hewan (RSH) Prof Soeparwi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Namun, menurut dia, dana sebesar itu tidak terserap seluruhnya karena peternak kebanyakan tidak menjual sapinya, karena daerah tempat tinggal mereka sudah dalam kondisi aman dari bahaya erupsi Merapi.

"Selain wilayah sudah aman, juga karena sapi-sapi mereka sehat setelah ditangani tim `task force` penanganan ternak korban erupsi Merapi yang telah dibentuk oleh Kementerian Pertanian dan didukung tim kesehatan Posko Medik Veteriner RSH Prof Soeparwi," katanya.

Ia mengatakan dari dana Rp100 miliar yang disiapkan pemerintah tersebut, sampai saat ini hanya digunakan sekitar Rp35,9 miliar untuk alokasi pembelian sapi hidup dan penggantian sapi yang mati.

"Alokasi dana pemerintah untuk pembelian sapi hidup yang disiapkan sebesar Rp100 miliar, ternyata hingga kini hanya digunakan Rp35,9 miliar," katanya.