Home » , » Foto-foto Terlarang Banyak Dipajang

Foto-foto Terlarang Banyak Dipajang

Bentara Budaya Jogjakarta begitu ramai oleh pengunjung yang tampak takjub melihat karya-karya fotografi yang dipamerkan. Setidaknya ada 75 foto karya Julian Sihombing yang bertajuk Split Second, Split Moment yang dipamerkan. Banyak sekali peristiwa yang diabadikannya. Mulai kegiatan olah raga, acara kenegaraan, hingga reformasi semua terangkum dalam bidikannya. Bahkan ada beberapa foto yang di zaman orde baru tak boleh diterbitkan, salah satunya foto Presiden Soeharto yang menangis ketika istrinya meninggal, juga dipamerkan.
Julian Sihombing menuturkan, proses pemilihan foto yang dipamerkan membutuhkan waktu satu tahun. Apalagi kebanyakan karya fotonya masih berupa negatif film. Karya-karyanya yang dipamerkan merupakan hasil bidikannya semasa masih aktif menjadi seorang wartawan foto. Ada beberapa foto yang dipamerkan adalah foto yang tak boleh diterbitkan karena alasan tertentu.
“Foto-foto ini banyak yang tidak boleh diterbitkan, apalagi saat orde baru dulu. Saat saya merancang dan memilih-milih foto saya pun memasukan beberapa foto ‘terlarang’ itu ke dalam pameran ini,” ujarnya ditemui disela pembukaan pameran, Selasa (5/4) malam kemarin.
Julian menjelaskan beberapa foto yang termasuk dalam kategori terlarang di masa orde baru, di antaranya foto Presiden Soeharto yang menangis ketika istrinya meninggal. Kala itu, dirinya bertugas untuk menggantikan rekannya untuk mengabadikan moment pemakaman Tien Soeharto di Dalem Kalitan Surakarta. Kala itu, Soeharto sedang menunggu tamu dan di sela waktu luang itu air mata menetes di matanya.
“Saat itu semua kamera dari fotografer kepresidenan menurunkan kameranya. Namun karena saya tak tahu tata cara bertugas di wilayah kepresidenannya, saya santai saja mengambil moment itu. Sayang kan, itu moment langka. Setelah mengambil foto itu, saya diinterograsi oleh Paspampres dan disepakati foto itu tidak akan terbit asalkan kamera saya tak dirampas,” ujarnya sembari mengenang.
Selain itu, ada satu foto yang membuatnya terkesan yakni ketika Deputy Chef Editor Tempo Fikri Juhri yang sedang menunggu pengumuman pembredelan majalahnya di televise. Ketika itu, Fikri Juhri menunggu pengumuman dari Menteri Penerangan Harmoko di depan televise dengan terus memandang jam tangannya.
Ada pula, foto yang mengabadikan moment demo besar-besaran tahun 1998. Ketika itu, seorang mahasiswi tiba-tiba terjatuh di depannya dan disekilingnya situasi sedang kacau. “Karena itu saya menyebutnya Split Second, Split Moment. Karena peristiwa itu hanya terjadi saat itu juga, kalau tak dapat ya sudah,” imbuhnya.
Terpisah Romo Sindhunata dari Bentara Budaya Jogjakarta mengatakan, dengan intelegensi dan kecekatan, Julian Sihombing mampu mengabadikan sebuah moment dengan keindahannya tersendiri. Dalam karyanya, tak hanya menceritakan sebuah fakta dan peristiwa, namun lebih kepada sebuah makna.
“Dalam hidup ini banyak split moment yang tak kita sadari. Tapi oleh Julian dapat ditangkap dalam karya fotografinya. Bidikannya selalu menghasilkan keindahan, setiap fotonya menampilkan sudut artistiknya entah itu foto olah raga atau foto yang menampilkan kekerasan sekalipun,” pujinya.(ila)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yogyakarta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger