Home » , » Laskar Dagelan: Kemarahan Rakyat Republik Jogja

Laskar Dagelan: Kemarahan Rakyat Republik Jogja


Butet Kartaredjasa muncul dengan busana Jawa ala Yogyakarta dan mengucapkan selamat datang, dan itu saja penonton sudah tertawa. Butet ternyata tidak ikut bermain dalam pementasan musikal plesetan 'Laskar Dagelan' di Graha Bhakti Budaya, TIM, Selasa (29/3/2011) malam. Ia hanya muncul untuk membuka dan menutup pertunjukan.

Ada sejumlah nama beken lain di balik pementasan itu, dengan 'label' tim kreatif. Sebut saja Djadug Ferianto dan Agus Noor. Selebihnya, di atas panggung, pertunjukan itu benar-benar milik anak-anak muda. Tentu saja ada Marwoto dan Yu Ningsih yang terbilang sangat senior. Tapi, komedian gaek macam Susilo Nugroho sudah pasti akan ngeles, "Saya kan bintang tamunya."

Ucapan itu ditujukan pada Hanung Bramantyo, yang di buletin pertunjukan disebut sebagai bintang tamu. Dan, di hadapan Susilo, yang dikenal umpak-umpakan itu, Hanung habis dikecrohi, sampai mati gaya dan nyaris tak bisa "akting" lagi. Semua itu tentu ada di skenario, tapi dalam sebuah lawakan Jawa, spontanitas itu nyaris tak terbatas. Dan, memang itulah yang diinginkan penonton: celetukan-celetukan "seenaknya" di luar naskah.

Susilo berkali-kali bilang, "Ini cuma dagelan!" ketika Hanung atau Marwoto berakting serius. Tapi, pada suatu saat, Marwoto membalas, "Dagelan aja tiketnya 200 ribu kok. Tapi, yang bodoh yang penontonnya!" Begitulah, seni humor Jawa itu meledek apa saja, terutama ya "akting" mereka sendiri di atas panggung itulah bahan ledekan utama.

Marwoto yang berperan sebagai abdi kraton dan berkali-kali "pidato politik", di ujung-ujungnya nanti pasti akan mementahkan kembali pidatonya sendiri itu. Demikian juga dengan Susilo, setiap kali abis berakting, ujung-ujungnya dia akan berkata, "Wuih, aku kayak teater ya!" Dan, barangkali, bagi Anda yang sudah akrab dengan dunia lawak Jawa, semua model lelucon yang ditampilkan 'Laskar Dagelan' tak ada yang baru.

Tapi, siapa sih yang ingin melihat lawakan baru? Apakah lawakan baru itu? Yang suka main pukul dan menghancurkan properti, seperti yang lagi ngetren di TV? Tidak, penonton malam itu hanya ingin menyaksikan guyon-guyon lawas yang sudah lama tak mereka dengar, dan kini sangat mereka rindukan. Lawakan trio punakawan Gareng-Joned-Wisben malam itu adalah lawakan jadul yang sudah sering kita saksikan di panggung ketroprak, tapi ya memang itulah yang dicari dan ditunggu penonton.

Tapi, walau petunjukan ini mengklaim dirinya sebagai musikal 'plesetan', bukan berati tidak ada yang serius di sini. Alur cerita, walau sedemikian cairnya, tetap ada. Babak pertama dibuka dengan sebuah pagi di Jalan Malioboro. Tugu Kota Gudeg tersebut selalu sama, punya rutinitas yang mengelilinginya. Seorang abdi dalem Keraton berpakaian dinas melintas dengan ontelnya, dan penjual nasi gudeg menggelar dagangannya. Terdengar pidato Presiden SBY tentang demikorasi dan keistimewaan Jogja, yang memunculkan kata 'monarki' yang kemudian jadi polemik itu.

Pembukaan babak kedua lebih dahsyat. Show Imah dalam balutan gaun malam merah menerawang menyanyikan 'Lingsir Wengi' yang dikocok dengan irama hip-hop Jawa ala Jogja Hip Hop Foundation. Ini benar-benar seperti pertunjukan musikal 'beneran'. Memang, pada akhirnya 'plesetan' hanyalah gaya merendah seniman Jawa. Nyatanya, pertunjukan ini tetaplah sebuah pertunjukan yang 'serius'. Marahnya serius, koreografinya juga bagus, dan tentu saja pujian khusus perlu diberikan untuk Kill the DJ untuk musiknya yang unik, hip hop berlirik Jawa yang ritmis.

Menjadi bagian dari program Indonesia Kita, 'Laskar Dagelan' pada dasarnya merupakan respon atas 'diusiknya' status keistimewaan Jogja oleh pemerintah pusat. Sekali lagi, walau labelnya 'plesetan', pertunjukan ini tetap dikemas rapi, bagus dan penuh metafor. Intinya, ini adalah cara orang 'Republik Jogja' marah. Dan, bayangkan, marah saja mereka bisa membuat ratusan orang tertawa terpingkal-pingkal selama 2 jam tanpa putus!

Hari ini, pertunjukan akan digelar dua kali, pukul 15.00 dan 20.00 WIB. Bagi yang tidak kebagian tiket, bisa menyaksikan lewat layar yang dipasang di pelataran Teater Jakarta.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yogyakarta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger