Home » , » Pemimpin Bangsa Alami Defisit Integritas dan Kesederhanaan

Pemimpin Bangsa Alami Defisit Integritas dan Kesederhanaan

Rektor Universitas Paramadina, Dr Anies Rasyid Baswedan mengkritisi fenomena defisit integritas dan kesederhanaan para pemimpin bangsa dalam beberapa dekade tahun terakhir. Menurutnya, perilaku yang ditunjukkan para pemimpin jelas sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh para pendiri republik yang tetap memiliki kompetensi, kedekatan dengan rakyat dan tidak memiliki 'self interest' hingga akhir hayatnya.

''Para pendiri republik adalah orang yang sudah selesai, mereka tidak menggunakan republik untuk memperkaya dirinya sendiri. Mereka memiliki kompetensi, kedekatan dengan rakyat dan minim ''self interest'', katanya dalam seminar nasional mengenang 25 tahun wafatnya AR Baswedan. Hasil kerja sama Yayasan Nabil dan Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM.

Menurut pandangannya, defisit integritas dan kesederhanaan terjadi pada level para pimpinan baik pusat dan daerah. ''Lihat ke puncak, intergritas tidak ada. Lihat ke bawah, tambah kacau. Kesederhanaan dan integritas semakin defisit,'' ujarnya.

Dinilai, seharusnya para pemimpin dan calon pemimpin saat ini perlu mencontoh keteladanan dari sosok para pendiri bangsa yang masih mengedepankan kesederhanaan dan tidak melakukan perilaku koruptif. Salah satunya yang ditunjukkan almarhum kakeknya, AR Baswedan, setelah pensiun dari menteri di era kabinet Syahrir.

Anies Baswedan yang merupakan cucu dari almarhum AR Baswedan yang dalam seminar tersebut didaulat memberikan sambutan mewakili keluarga besarnya. Alumnus FEB UGM itu menyampaikan aresiasi kepada Yayasan Nabil dan Jurusan Sejarah UGM yang mendiskusikan kembali kiprah kakeknya. ''Kami sebagai keluarga menyampaikan apresiasi,'' katanya.

Ketua Jurusan Sejarah FIB UGM, Drs Ahmad Adaby Darban mengatakan, sosok AR Baswedan merupakan peranakan Arab yang memilki integritas tinggi dalam mewujudkan kemerdekaan. ''Meski orang Arab, dia mempertegas kalau dirinya sebagai orang Indonesia,'' ujarnya.

Ditambahkan, semasa hidupnya Baswedan pandai bergaul dan sangat luwes. Rekan dan sahabatnya berbagai golongan dan agama. Di era penjajahan, dia berjuang lewat media jurnalistik, menyampaikan ide dan kritik terhadap pemerintha Hindia Belanda.

Namun setelah kemerdekaan, Indonesia tengah mencari dukungan dari negara di luar negeri tentang kemerdekaan Indonesia, almarhum Baswedan ternasuk dalam tim dibawah koordinator Agus Salim yang berjuang memperoleh dukungan tersebut dari Mesir dan Arab. Atas perjuangan dan dedikasinya kepada bangsa dan negara, sudah selayaknya Baswedan diangkat sebagai pahlawan nasional.

( Bambang Unjianto / CN27 / JBSM )

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yogyakarta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger