Home » , » Petani Minati SRI Organik

Petani Minati SRI Organik

Alokasi pupuk Kabupaten Purworejo tahun 2011 mengalami penurunan. Hal ini dipicu turunnya serapan pupuk petani karena cuaca dan juga meningkatnya minat petani dalam menggunakan budidaya SRI Organik. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Purworejo Ir Dri Sumarno melalu staf ahli bidang Sarana dan Prasarana Edi Supriyono SP MM mengungkapkan, alokasi pupuk 2011 Kabupaten Purworejo telah ditetapkan melalui Pergub No 521.3/03604 tertanggal 21 Maret 2011.
Dikatakan Edi, alokasi pupuk untuk Kabupaten Purworejo Tahun 2011 totalnya 22.472 ton. Jumlah itu mengalami penurunan jika dibanding tahun 2010 yang alokasinya mencapai 28.000 ton.
"Selain pupuk urea, jenis pupuk lainnya yang mengalami penurunan alokasi yakni pupuk SP 36 dari 4180 ton - 4000 ton, pupuk ZA dari 3695 ton - 2850 ton," katanya, Rabu (6/4) kemarin.
Dijselaskan, kuota itu berdasarkan usulan yang sudah dikirimkan sebelumnya, yakni 24.580 ton urea, 7035 ton SP36, 5573 ton ZA, 10.725 ton NPK dan 7110 ton organik. "Jumlah itu nantinya akan disesuaikan dengan kondisi dilapangan, jika nantinya masih ada kekurangan kami akan mengusulkan kembali berapa kekurangannya," imbuhnya.
Disinggung apa penyebab penurunan alokasi pupuk 2011, Edi menegaskan, faktor yang cukup dominan dan menonjol yakni data serapan pupuk tahun 2010. Selain faktor cuaca, penggunaan pupuk kimia oleh petani kini mulai menurun seiring program SRI Organik yang mulai teraplikasi.
"Hitungan kasarnya saja luas sawah yang sudah menerapkan SRI Organik sudah ada sekitar 600 hektare. Tahun 2011, pengembangan SRI Organik juga diberlakukan 200 hektare sawah plus bantuan pengembangan dari pemerintah. Kedepan Purworejo kan juga sedang menuju kabupaten Organik," ujarnya.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Purworejo, Eko Anang SW menambahkan, petani yang sudah mulai membudidayakan padi organik, secara otomatis akan menurunkan ketergantungannya terhadap pupuk kimia.
"Jika sebelumnya petani sudah biasa menggunakan pupuk 300 - 400 kilogram untuk sekali pemupukan. Petani semi organik saja kini sudah mulai menurunkan jumlah pemupukan hingga separohnya. Harga pupuk yang naik dari Rp 60 ribu - Rp 80 ribu per zak juga cukup mempengaruhi serapan pupuk bagi petani," ucapnya.
Pantauan Radar Jogja di Gudang Pupuk PT Pusri Batoh, Kecamatan Banyuurip menunjukkan kini tempat itu masih menyimpan sekitar 141, 5 ton pupuk. Jumlah itu, cukup minim, turunnya volume gudang pupuk PT Pusri itu lantaran keterlambatan kedatangan pupuk dari Cilacap dan naiknya serapan pupuk petani. (tom)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yogyakarta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger