Home » , , » Selamat Bertugas ‘Mbah Asih’

Selamat Bertugas ‘Mbah Asih’

PENGUKUHAN Mas Bekel Anom Suraksosihono (44) sebagai Pengirit Abdi Dalem Juru Kunci Gunung Merapi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat - jabatan yang semula dipangku oleh Mbah Maridjan (almarhum) - menjawab semua keingintahuan masyarakat luas tentang siapa pengganti Mbah Maridjan yang sangat legendaris itu. Surat kekancingan dari Kraton Yogyakarta sudah diserahkan GBPH Joyokusumo (Senin, 4/4) kemarin.
Sosok pengganti Mbah Maridjan yang biasa dipanggil Asih tersebut memang bukan orang baru. Sebab dia putra kandung ketiga Mbah Maridjan. Dengan demikian ‘Mbah Asih’ memang ‘putra asli’ daerah. Selama ini Mbah Asih bahkan sudah sangat familier dengan apa yang dilakukan/ ditugaskan kepada ayahandanya. Dia juga sangat familier dengan orang-orang yang datang ke rumahnya untuk bertemu ayahnya. Dia juga familier dengan orang-orang asing yang banyak datang-pergi di desa/rumahnya untuk pelbagai alasan. Misal, sekadar berwisata atau mendaki Gunung Merapi.
Banyak yang kita harapkan dari keberadaan Mbah Asih sebagai juru kunci. Pengalaman ketokohan Mbah Maridjan, hendaknya menjadi pembelajaran positif dan negatif bagi semua pihak. Baik pihak kraton sebagai yang utama berkepentingan pada keberlangsungan aspek adat-istiadat, budaya dan hal ritual lainnya. Juga bagi pemerintah daerah yang mau tidak mau harus memiliki kebijakan khusus terhadap kondisi taken for granted geografis Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai kawasan yang memiliki gunung berapi teraktif terbesar di dunia.
Hal dasar yang harus akan membedakan Mbah Asih dengan Mbah Maridjan, adalah pola berpikir yang muncul setelah perbedaan generasi. Kita semua tahu sikap patuh dan loyal Mbah Maridjan terhadap siapa yang menugaskan dan apa yang ditugaskan, dilakukan dengan cara berpikir (the way of thinking) model generasi Mbah Maridjan. Sebuah episode generasi yang linier dengan kepekaan atas dasar insting dan intuitif. Tidak/belum terkombinasi dengan diskursus alam berpikir kognitif yang memerlukan proses mediasi dengan pembelajaran ilmu pengetahuan yang oleh Plato disebut sebagai: sains — dimana selangkah lagi, akan erat terkait dengan teknologi.
Banyaknya korban tewas pada peristiwa erupsi Gunung Merapi 5 November 2010 lalu, secara ilmu sosial dan budaya dicatat sebagai causa prima atas implementasi nilai kepatuhan terhadap suatu hal. Bahkan peristiwa sedih tewasnya Mbah Maridjan akibat terpanggang panasnya lava pijar, tetap dimaknai sebagai kepatuhan pada konsepsi alam. ‘Kepergian’ Mbah Maridjan, karena kepatuhan pada dhawuh Ngarsa Dalem Sri Sultan HB IX (yang juga sudah mangkat) yang melarang meninggalkan Merapi dalam kondisi apapun - banyak dikupas oleh para budayawan sebagai model loyalitas dan integritas yang konon ‘dirindukan’ lagi untuk masa kini.
Mbah Asih sebagai generasi muda pasti mampu menimbang dan memilah kepatuhan macam apa yang harus dia lakukan. Mbah Asih memang anak Mbah Maridjan. Tetapi seharusnya Mbah Asih bukan copy paste Mbah Maridjan. Dia menjadi tokoh perubahan sosial yang harus mampu menerjemahkan kehendak zaman Milenium III ini. Zaman yang mau tidak mau harus mengadopsi teknologi.
Selamat bertugas Mbah Asih. Niatkan pengabdian agar bermanfaat bagi semua makhluk ciptaanNya.q - o
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yogyakarta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger