Home » , » Utamakan Logika Berpikir daripada Klenik

Utamakan Logika Berpikir daripada Klenik

Asih mulai Senin lalu (4/4), telah resmi menjadi juru kunci Gunung Merapi setelah dilantik oleh GBPH Joyokusumo. Tugas pertama Asih yang kini bergelar Mas Lurah Suraksosihono dalam waktu dekat ini adalah menggelar labuhan Merapi, Mei mendatang.

KUSNO S. UTOMO dan YOGI ISTI, Jogja WAJAH Asih terlihat cukup tegang ketika mengikuti prosesi pelantikannya di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan Keraton, Senin lalu. Mengenakan baju peranakan warna biru tua, pria berkacamata berusia 45 itu jarang tersenyum selama prosesi pelantikan yang dibarengkan dengan wisuda abdi dalem tersebut.
Tapi begitu acara usai, wajah Asih tampak sumringah. Sesekali bibirnya mengembang menyunggingkan senyuman. Apalagi begitu keluar dari bangsal dan dikerubuti wartawan, Asih menunjukkan surat kekancingan (SK) yang baru saja diterimanya. Ia pun menjawab pertanyaan para wartawan dengan lancar.
’’Saya sangat senang dan berterima kasih dengan amanat yang diberikan, saya akan berusaha untuk dapat menjalankan amanah Kanjeng Sinuwun dengan sebaik-baiknya,’’ ungkap Asih usai pelantikan.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai staf Tata Usaha di Fak MIPA Universitas Islam Indonesia (UII) ini tidak kesulitan mengatur waktu untuk menjalankan profesi barunya. ’’Tidak masalah, pandai-pandai saja kita mengatur waktu. Untuk acara labuhan Merapi, hanya dilakukan setahun sekali. Selain itu, tugas lainnya ya sebagai abdi masyarakat di kawasan Merapi,’’ kata Asih yang mengaku sudah lebih dari 12 tahun sebagai abdi dalem.
Perjalanan Asih menjadi juru kunci Merapi menggantikan ayahnya almarhum Mbah Maridjan memang tergolong istimewa. Ibarat Kapolri Jenderal Timur Pradopo yang pangkatnya langsung naik dua tingkat, Asih pun demikian. Saat menjalani seleksi yang dilakukan Keraton Jogja, Asih masih bergelar Mas Bekel Anom Suraksosihono.
Sementara empat abdi dalem yang juga mengikuti seleksi bersamanya, rata-rata sudah lebih tinggi gelarnya atau lebih senior. Meski begitu, pilihan Keraton tetap jatuh pada Asih kendati gelarnya masih rendah. Untuk menyiasatinya, gelar Asih pun dinaikkan menjadi Mas Lurah Suraksosihono.
Suami Mursani ini menuturkan, pertama kali menjadi abdi dalem melalui proses magang selama empat tahun. Setelah itu baru mendapatkan gelar Mas Jajar. Gelar Mas Jajar disandangnya selama empat tahun. Kemudian, pria kelahiran 7 Agustus 1966 ini naik pangkat menjadi Mas Anom. ’’Setiap empat tahun biasanya naik pangkat,’’ kata bapak dari Fadila Sri Sejati, 14, dan Fadila Nurman Utami, 7, ini.
Sesuai urut-urutan jenjang pangkat, lanjut dia, harusnya setelah Mas Anom kemudian Mas Sepuh. Setelah itu baru menjabat menjadi Mas Lurah. Mas Lurah merupakan jenjang pangkat yang tinggi di Keraton. ’’Iya, saya naik dua tingkat lebih tinggi. Ya itu kan yang menentukan Keraton. Kemarin sudah melalui proses seleksi,’’ katanya.
Pria yang masih tinggal di shelter Ploso Kerep, Umbulharjo ini mengatakan, tidak ada pesta atau kemeriahan yang dilakukan saat ia terpilih jadi juru kunci Merapi. ’’Biasa-biasa saja, ini kan saya diberi amanat dari keraton. Semaksimal mungkin akan saya lakukan sesuai amanat yang saya emban,’’ tambahnya.
Saat disinggung adakah kendala saat melakukan ritual keraton di Gunung Merapi nanti, Asih mengaku tidak ada. ’’Dulu kan sudah sering melakukan ritual bersama almarhum Bapak (Mbah Maridjan, Red). Jadi ya biasa-biasa saja,’’ ujarnya.
Seperti diketahui, Mbah Maridjan meninggal dunia setelah tersapu awan panas menyusul erupsi Merapi pada 25 September 2010 lalu. Saat itu, Mbah Maridjan menyuruh seluruh keluarga untuk turun atau mengungsi. Namun ia sendiri menolak turun gunung.
’’Sik (Asih) mau kemana? Kalau turun (mengungsi) keluarga diajak. Saya kalau turun nanti digeguyu pitik (ayam),’’ kata Asih menirukan perkataan Mbah Maridjan sebelum meninggal.
Asih menyatakan, tidak akan meniru Mbah Maridjan yang enggan menggungsi saat kondisi Gunung Merapi dalam level Awas. ’’Saya kalau disuruh mengungsi ya akan mengungsi. Saat ini kan saya juga masih di pengungsian,’’ tambahnya.
Asih mengaku lebih memilih menggunakan logika perpikir daripada yang bersifat magis atau sebangsa klenik. ’’Saya tidak begitu paham tentang klenik. Kalau nanti ada orang menanyakan tentang klenik saya tidak bisa jawab. Mengenai keadaan Merapi bahaya atau tidak, saya koordinasi dengan pemerintah kabupaten maupun badan kegunungapian,’’ katanya.
Sebagai juru kunci merapi yang baru diwisuda dan juga mendapatkan pangkat Mirunggan atau naik 2 tingkatan, GBPH Joyokusumo berharap Mas Lurah Suraksosihono dapat melaksanakan tugas sebagaimana mestinya. Di samping melaksanakan tugas labuhan dalem, sebagai juru kunci Merapi, Asih juga mesti menjadi contoh bagi masyarakat dan dapat menempatkan diri, bekerja sama dengan instansi lain yang mempunyai kewajiban terkait aktivitas gunung Merapi.
Sementara itu terpilihnya Asih, mendapat tanggapan dari Rektor UII Prof. Edy Suandi Hamid. Maklum, saat ini Asih masih tercatat sebagai karyawan non-akademik di kampus tersebut.
’’Tentunya Mas Asih harus bisa seimbang dalam pekerjaan utama dan sebagai juru kunci. Dia juga harus rasional dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan,’’ ujar Edy dihubungi terpisah.
Rasionalitas itu, kata Edy, mengingat kemungkinan berulangnya erupsi Merapi. Edy mengatakan, ilmu pengetahuan dibentuk dari pengalaman. ’’Kalau Merapi mau erupsi ya menyingkirlah jangan bertahan,’’ pinta Edy tanpa bermaksud menyindir Mbah Maridjan yang
tetap bertahan meski Merapi telah menunjukkan tanda-tanda akan meletus.
Menurut Edy, Mbah Maridjan tak mau turun gunung saat itu tidak serta merta karena juru kunci itu tahu betul tentang Merapi. Tapi, Mbah Maridjan juga mendasarkan pengalamannya selama menjaga gunung paling aktif di Indonesia itu. ’’Itu tentu dilandasi juga dengan akal sehat. Hanya saja yang namanya prediksi kan bisa saja salah,’’
papar guru besar Fakultas Ekonomi UII itu.
Kepada penerus Mbah Maridjan, Edy berharap bisa dikolaborasikan antara insting, pengalaman, dan ilmu pengetahuan yang ada. Terkait kesibukan baru Asih, Edy berjanji akan memberikan toleransi waktu jika ada kegiatan
Kraton. Bagi UII hal itu tak masalah karena sifatnya insidental.
Selain itu kegiatan kraton juga berhubungan dengan budaya atau upacara adat yang tetap harus dilestarikan. Edy mengaku bangga ada salah satu karyawan UII yang menjadi bagian dari kraton. ’’Kami melihat secara case by case. Atauran induk kepegawaian tetap ada, tapi kami izinkan Asih untuk off sebentar untuk membantu keraton tanpa mengabaikan tugas pokoknya,’’ kata Edy.
Lebih lanjut Edy berpesan agar Asih dalam menjalankan tugas barunya bisa lebih optimal dari pendahulu-pendahulunya. Apalagi strata pendidikan yang dienyam Asih tentu lebih tinggi dari Mbah Maridjan. ***
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yogyakarta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger